Selasa, 29 September 2015

Jika Sendiri adalah Kekuatan, Maka Bersama adalah Kesempurnaan

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْداً ﴿٩٥﴾


“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. (QS. Maryam. 95)
Kuawali dengan mengutip salah satu ayat karya agung Allah SWT dalam al quran Q.S Maryam ayat 95 di atas. Bahwa kita sesungguhnya bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Kita datang seorang diri sebagai seorang hamba yang dinanti Allah untuk menjawab apa-apa saja yang menjadi ritual selama kita hidup di dunia. Apakah itu semua akan mengantarkan kita pada beratnya timbangan kebaikan atau sebaliknya. 
 Jika Sendiri adalah Kekuatan, Maka Bersama adalah Kesempurnaan
Judul di atas berkaitan dengan bagaimana diri kita menyikapi kesendirian. Kalau pada hari kiamat nanti kita akan berjalan sendiri-sendiri menuju hari pembalasan. Lantas bagaimana membuat kesendirian kita di hari kiamat nanti dipenuhi dengan kekuatan dan kesungguhan menghadap Sang Ilahi?
Ya Allah, berharap ampunan dariMu karna jika kami ini termasuk orang-orang yang masih sering mengeluhkan kesendirian. Mau berbuat baik, takut karena sendiri. Ingin berpendapat tidak mampu karna kami tak punya banyak pendukung. Sungguh kami tidaklah memiliki kekuatan selain hanya kepadaMu tempat segala kekuatan.
Menjadikan kesendirian sebagai kekuatan adalah bukti iman kita kepada Allah. Allah senantiasa bersama kita. Melindungi setiap hamba yang menggerakkan kakinya menuju tempat yang dipenuhi keberkahan. Menggunakan mulutnya sebagai pengantar lisan yang baik sehingga mampu memberikan pengaruh kebaikan pula. Mengantarkan hati kepada kerinduan tanpa henti terhadap kasih sayang Allah. Bahkan Allah telah sampaikan kesendirianmu dalam al quran. Masihkah kita ini mengeluh?
Syukuri, bahwa sendiri sering menjadikan kita akan sangat dekat dan teramat dekat dengan Allah. Tetapi dengan kebersamaan, jalan dakwah akan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Apa yang kita sampaikan menjadi lebih merata ke berbagai kalangan. Serta kesempurnaan akan hadir di setiap perjalanan dakwah kita.
Semangat teman, genggam erat persahabatan dan persaudaraan umat islam.
Islam ada di tangan barisan pemuda yang berjamaah untuk berdakwah :)

Jumat, 31 Juli 2015

Apakah dengan Menyalahkan, Dirimu Sudah Merasa Benar ?

Ujian bagi seseoarang yang dianggap dan menganggap dirinya memiliki ilmu adalah keringanan, keharusan, kerelaan, dan kemudahan untuk memposisikan orang lain lebih salah. 

Di awal kalimat saya, semoga tercurah rahmat kepada kita semua, untuk tetap meyakini yang benar dan mengajak siapapun kepada kebenaran. Saya sendiri meyakini akan ketakutan dan keraguan yang selalu saya miliki ketika menuliskan tentang benar dan salah. Saya tidak berani, takut melancangi wewenang Tuhan dalam memutuskan perkara yang baik dan buruk. Diri ini hanya sebagai hambaNya, yang setiap hari ngupreg-upreg mempertanyakan yang baik dimata Tuhan itu yang bagaimana? yang suka bikin berantem minta dibenarkan sementara yang lain harus disalahkan... Astaghfirullah. Sungguh Allah Maha Tahu segala sesuatunya tapi memilih diam sebentar, menguji seberapa sombongnya kita sebagai manusia terhadap ilmu yang dimilikinya, padahal itu titipan siapa lagi kalau bukan Dzat yang luar biasa berilmu.

Allah karuniakan ilmu yang dikemas dalam balutan puisi terbaik di dalam al-quran semata untuk menjadikan manusia sebagai hamba yang terus-menerus mencari kebenaran. Tetap merasa rendah dibandingkan dengan milyaran ilmu pengetahuan Allah yang dilipat lipatkan lagi menjadi tak terhingga yang kita tak mampu menjangkaunya, tapi bisa dan diharuskan bisa sedikit demi sedikit memahami, merenungi dan melaksanakan semua perintahnya.

Saya bukan orang yang ahli ilmu agama. Sekali lagi saya sebenarnya paling takut menuliskan ini. Berkenankah pemuka-pemuka ilmu di luar sana melihat niat baik jutaan anak-anak muda yang  ingin mencari kebenaran, tetapi belum kemana-kemana sudah disalahkan karena langkah yang diambilnya bukan merupakan kebenaran, atau karena jalan yang diambilnya bukan dari majelis madrasah ilmu dan lain sebagainya. Sekali lagi mohon maaf, seorang pemabuk yang lingkungannya sangat tidak lazim bisa saja dikaruniakan oleh Allah kebaikan secara tiba-tiba, karena itu kuasaNya bukan?


Terkadang, cara seseorang dalam mencari keridhaan Allah memang berbeda-beda, tapi kumohon jangan mudah menyalahkan hanya karena menganggap diri kita sudah merasa benar dengan cara ibadah kita.
Allah Yang Maha Tahu, bersegeralah melakukan kebaikan dan mengajak pada kebaikan. Itu lebih barokah, aamiin.

GW

Minggu, 12 April 2015

Sudahkah Ibu bangga ?

Untukmu ibu, dari seorang anak yang dengan lirih berdoa untukmu. Karena malu doa ini terdengar olehmu. Tapi jelas kuyakin , Allah mendengar lebih jelas apa yang aku harapkan, melihat lebih detail apa yang aku kerjakan, dan mengetahui niat terdalam yang ada di setiap hal yang kukerjakan.
Saat kubuka kedua mataku, kulihat tak ada kau disisiku. Ternyata kau terbangun lebih awal setiap harinya. Mengatur segala sesuatu yang kau butuhkan untuk pekerjaanmu. Mempersiapkan ibadah terbaikmu yang ditunggu oleh Allah, bu. Sedang aku masih malas dan tertidur, seolah aktivitasku jauh lebih berat darimu. padahal tidak.
Dengan sangat lirih dan sembunyi-sembunyi, aku ingin menyampaikan padamu ibu. Tugasku tidak cukup berat dibandingkan pengorbananmu yang begitu hebat. Tanggung jawabku diluar sana hanya secuil yang aku tiru darimu . Harapanku masih sangat lemah dibandingkan tekadmu memasukkanku ke pendidikan yang tinggi sebagai mahasiswa.
Ibu jika boleh aku bertanya, dengan tanpa kau mengetahui ini. Sudahkan kau bangga padaku? yang masih lalai menemani masa tuamu? yang masih ingin mengejar dunia yang sungguh menggoda ini? yang masih mengharapkan kebahagiaan tanpa ridho darimu?
Ibu, maaf untuk sekian waktu yang kuhabiskan bersama mereka. Semua kulakukan karena aku mencintaimu, terlebih kepada Tuhan yang maha mengerti bahwa setiap harapanku ada namamu..Ibu.