Jumat, 04 Oktober 2013

rumah yang menanti kepulanganmu

aku akan sedikit bercerita. sebenarnya banyak hanya saja aku tidak ingin dikatakan terlalu banyak ngomel disini :)
dan secara terang-terangan aku akan berbagi mengenai sesuatu hal yang saat ini menimpaku pun beberapa orang di sekitarku.
berbicara tentang sebuah rumah yang tertumpuk puluhan rindu ( mengapa dikatakan puluhan karena aku tidak ingin menyebutnya terlalu banyak )
tentang sebuah nama yang tercipta untuk menyatukan dua latar belakang pemikiran yang berbeda.
tentang sebuah tempat yang menyimpan impian-impian kreatif anak muda.
mengenai hidup dan hidupnya para pejuang impian.
tentang rumah yang senantiasa menanti kepulanganmu.
dialah Rumah Seni.

aku tahu, bahkan sangat tahu. atau mungkin ada beberapa hal yang belum kuketahui dan aku berdoa semoga Allah memaklumi itu.
aku menyadari satu hal, bukan ingin disebut sebagai yang berwenang disini. karena aku adalah bagian dari mereka. sama-sama berjalan dengan mereka. anak-anak muda yang mengajarkan banyak hal kepadaku. tentang bagaimana mengontrol diri, bagaimana menjadi seorang pemimpi yang tak kenal rasa takut.

kemarilah kawan, lirihkan suaramu. dan mari kita berbicara sungguh-sungguh.
Rumah Seni sedang kehilangan nahkodanya, buka satu atau dua orang. melainkan kita semua adalah nahkoda dari pelbagai sisi rumah ini.
aku tidak perlu mengetuk pintu hati kalian satu per satu.
karena aku tau ini tidak mudah, dan kita terlalu muda untuk menyelesaikan hal pelik ini dengan cepat.
mungkin kalian akan berpikir yang kukatakan tidak akan ada gunanya.semuanya omong kosong.
dan sekali lagi maafkan upayaku ini. ketika dirasa tidak ada manfaatnya, aku tidak keberatan kalian menutupnya.

jujur saja, aku sedang memarahi diriku sendiri. aku berusaha menemui orang-orang baik dan meminta mereka "menamparku". bahwa ternyata diri ini masih jauuuuuuh sekali dari yang namanya kebaikan. aku sadar betul, aku ini rapuh dan justru dikuatkan karena ini.

berkali-kali aku menemukan orang menanyakan kabar rumah ini, dan kalian tahu, aku harus memunafikkan diri dengan mengatakan kita selalu baik-baik saja. itu doaku dan pasti aku yakin ini adalah bagian dari doa kita semua. aku merasa sangat berdosa ketika mengakui hal yang tidak sebenarnya terjadi. dan itu sungguh menyakitkan. tetapi rasa sakit itu kemudian berubah menjadi bulir bulir doa ketika ada juga beberapa orang mengatakan padaku, sukses ya buat rumah seni .

Menyakitkan memang, ketika orang menilai kita begitu baik, kita tampak sempurna di mata mereka. kita tampak begitu solid di pikiran-pikiran mereka tapi kenyataanya kita sedang rapuh. kita sedang berada pada titik kejenuhan. dan kita mengahadapi permasalahan yang begitu memuakkan .

ada orang yang secara tegas mengatakan ini padaku, "jangan merasa dirimu selalu benar, kamu salah! selalulah merasa salah. karena kesalahan membukamu kepada satu pintu kebaikan"

dan sekali lagi maafkan aku kawan, aku sedikit kehilangan semangatku. hanya ini yang bisa aku lakukan. aku tidak cukup berani berteriak di hadapan kalian, menggertak kalian untuk kembali pulang. karena aku tau, aku tak memliki kemampuan untuk itu.
tetap jaga kesehatan ya, aku merindukan kalian.
selipkan doa kalian untuk rumah seni.

sedikit mengutip catatan pak arief budiman:

''Tuhan, Engkau baik hati meskipun kadang kurang ajar. Saya tahu Engkau tidak akan menghadirkan keajaiban pada hamba-Mu yang lemah. Karena itu, saya tidak menyerah.'' 

tengoklah rumah yang menanti kepulanganmu :')

salam kreatif dan rindu

Nia Oktaviana





1 komentar:

  1. Menyakitkan memang, ketika orang menilai kita begitu baik, kita tampak sempurna di mata mereka. kita tampak begitu solid di pikiran-pikiran mereka tapi kenyataanya kita sedang rapuh. kita sedang berada pada titik kejenuhan. dan kita mengahadapi permasalahan yang begitu memuakkan .

    Aku sedang merasakan ini, beb

    BalasHapus