Sabtu, 22 Juni 2013

LINGKAR USIA


Kusematkan rindu pada daun-daun yang mendongak
Menunggu hujan yang menitikkan rasa
Aku kian membisu
Terjerumus pada usia yang semakin maju
Menertawai nafsu , terkungkum dalam tumpukkan rindu
Bibirku terpaku, tak lagi mampu ciptakan senyum malu
Hilangnya masa kekanakan yang meletupkan rasa ingin tahu
Kusadari, aku telah terpenjara
Terpasung bersama ribuan penari ulung
Berdansa di atas lingkar usia
Memastikan dunia yang sedang berbicara
Bahwa usia kita tak lagi muda.

Menunggu pada sepotong senja


Kamu, dengan gamang menatapku.

Sorot matamu yang lemah ,
Isyarat rindu yang tak pernah lengah

Membiarkan waktu terus memanggilku

Menggelitik dalam tangisan hujan

Wajah cinta yang kau temukan dalam diriku
Kau aduk dalam manisnya senja yang merekah

Senyummu menitik pada setiap lukisan senja

Bertabur guratan tawa yang memberi rasa pada jingga

Jangan menatapku terlalu dalam, seakan aku hampir tenggelam

Dalam luapan kasih yang kau tumpahkan, karna tak sanggup kau menyimpannya
Biarkan Tuhan menjadi saksi, dalam jarak yang tak terlihat oleh batin kita
Biarkan waktu yang memberi arti, dari menunggu sebuah keabadian.


Masihkah kau menungguku? seperti senja yang menunggu malam?

Akankah kau tetap mencintaiku? Seperti senja yang setia kepada jingga?

Pada sepotong senja yang tersipu malu, aku mencintaimu tanpa ragu.
Cinta, tetaplah menjadi lelaki di ujung senja.