Jumat, 12 April 2013

Akhir Masa Sekolah

"selalu ada akhir dari sebuah awal, selalau ada rindu di balik sebuah pertemuan"

jika berbicara tentang akhir maka kita akan kembali kepada masa masa dimana awal menjadi bagian paling penting untuk menuliskan sebuah cerita . setiap orang pasti akan merasakan bagaimana sulitnya mengakhiri apalagi untuk sesuatu yang membahagiakan. karena hal yang paling menyedihkan dari sebuah kebahagiaan adalah mengetahui bahwa semua itu akan segera berakhir.
berbicara tentang akhir, apalagi akhir masa sekolah.... entah harus bahagia atau sedih, lega atau justru bertambah tanggung jawab yang lebih besar. pastinya kita akan diberi pertanyaan yang lahir dari dan untuk diri sendiri. akan menjadi seperti apakah kita setelah ini? setelah menyandang gelar "lulus". itu bukan hanya sekedar pertanyaan, melainkan tanggung jawab mengenai apa yang saya dapatkan selama sekolah, apa yang saya pelajari dan bagaimana diri ini menjadi seseorang yang pantas dikatakan seorang pelajar.
disini saya tidak akan berbicara tentang mimpi, tidak akan menagih semua mimpi mimpi yang lama kita tanamkan dalam hati yang terkadang lupa terpelihara komitmen dan janji janjinya. seiring berjalannya waktu, semasa sekolah kita justru terbuai dalam nilai yang membius sebagian angan angan masa kecil kita, oleh karena itu agak sungkan saya jika membahas mimpi yang terkesan labil di usia yang semakin dewasa ini. karena mimpi adalah tanggung jawab masing masing dari kita, selebihnya biarkan Tuhan dan orang orang di sekeliling kita menjadi pemacunya.

saya hanya ingin membahas bagaimana nikmatnya menjadi seorang pelajar. rasanya bertemu dan dididik oleh guru yang super menyebalkan.sedihnya mendapat rengking paling akhir atau bahagianya merasakan kedengkian saat mengetahui teman kita dapat nilai sempurna, buku pelajaran tertinggal dan kena marah guru killer, ulangan clingak clinguk mencari contekan, presentasi gagap dan gugup tidak karuan, disuruh menjelaskan materi pelajaran ketika kita sedang dilema antara ikhlas tidur atau meratapi rasa kantuk , ya itulah bagian dari mekanisme pendidikan. sebagian besar waktu yang kita habiskan di sekolah, bukan untuk mengejar mata pelajaran yang mengunci rapat rapat senyum kita, melainkan begitu berharganya waktu tersisa hanya sekadar tertawa berkumpul dan bercerita tentang kisah hidup masing masing. ya, sekolah adalah belajar tetapi tidak hanya untuk mempelajari setiap detil pelajaran yang menjemukan. maaf, saya tidak sedang mengajarkan untuk menjadi pelajar yang bodoh dan menyianyiakan biaya orangtua. karena bagi saya pribadi, hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk orang tua saya adalah menjadi anak yang baik , bukan pelajar yang pintar dan berprestasi.

keinginan untuk segera lulus pasti ada, sangat ada. mengingat betapa uhmm "complicated" nya segala macam urusan di sekolah. saya sangat ingin menyandang gelar lulus. melanjutkan hidup ke era yang lebih baik, dalam pemikiran yang lebih dewasa. bertemu dengan orang orang baru pastinya. tetapi yang jelas, sekolah saya saat ini sungguh luar biasa. memberi kesan baik tersirat atau tersurat. pahit dan manis. luka dan tawa.muak dan rindu. bagaimanapun, saya bertemu dengan orang orang baik disini. belajar dari orang orang yang luar biasa. dan itulah yang memacu saya untuk menuliskan ini dalam hati bahwa "bodoh, kalo setelah saya lulus dari sini, saya tidak menjadi apa apa".
selebihnya, rindu yang tak terkira jika suatu saat nanti saya tidak lagi menginjakkan kaki setiap paginya untuk memasuki gerbang penuh cerita, di sekolah tempat semua kenangan tercipta dan kita bisa belajar banyak hal dari rasa sakit dan bahagia di dalamnya.

Tuhan memang sedang menggodaku


Ada hari-hari dimana keburukan seperti mengumpul dan menjadi palu godam yang menghantam nasibmu.

Ada hari-hari dimana engkau merasa telah melakukan segalanya sebaik-baiknya, mengikuti dengan hati-hati semua jalan Tuhan, tapi yang engkau terima adalah dukacita.

Ya, secara kemanusiawi kita wajar berteriak histeris, memaki-maki, dan mempertanyakan dimana keadilan Tuhan. Ya, sebagian besar orang yang pernah hdup di muka bumi ini akan melakukan hal yang sama, untuk semua hal buruk yang terjadi maka jawaban yang paling masuk akal adalah menyalahkan apa saja, siapa saja, selain diri sendiri tentu saja.

Tapi jika engkau memilih menerima dengan besar hati dan bersyukur atas semua 'keburukan' yang terjadi, akan engkau temukan di akhir hari bahwa Tuhan hanya menggoda.

Kutipan di atas adalah bentuk kekaguman saya kepada Bapak M.Arief Budiman, dialah penulis buku “Tuhan Sang Penggoda” yang sempat menyita perhatian saya. Membuat saya rela menghabiskan waktu untuk menelan kalimat demi kalimat yang terkandung dalam buku tersebut. Terima kasih untuk buku yang telah memberi saya sedikit garam ketika saya mulai merasakan hambar dalam kehidupan ini. Buku yang luar biasa menginspirasi bagi saya, entah bagi orang lain saya tidak cukup peduli, hehe.
Buku ini menjawab semua keraguan saya dalam menentukan jalan hidup, memberi gambaran tentang adanya cahaya ketika yang saya lalui masih saja seperti gelapnya gua tak bernyawa.Mengajarkan saya tentang bagaimana mengerti maksud Tuhan, dalam segala hal, seperti ketika Tuhan disebut sebagai penggoda misalnya. Saya tidak tahu, entah kebetulan berjodoh atau bagaimana, saya seperti jatuh cinta pada buku itu, sejak membuka lembar pertama dan kemudian memberikan kesan yang begitu mempesona.
Mengesankan sekali jika saya diberi kesempatan membeli buku itu dengan harga yang sesuai kantong saya pastinya atau akan lebih luar biasa gembira jika ada yang memberi, hehe. Itu buku recommended! Buat saya pastinya :)

Selasa, 02 April 2013

secangkir rindu

saya tahu mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengaduk aduk rindu yang telah lama mengendap.
pagi seharusnya menjadi saat seluruh nafas kembali terlahir, seluruh tawa kecil kemudian mulai dibangun dan sebuah mimpi mimpi besar dikemas dalam rangkain doa yang pada akhirnya kita hanya berserah kepada yang memberi hidup.
"saya rindu menulis"....
begitu yang disampaikan secangkir kopi yang didalamnya mengendap bulir bulir rindu. membuat saya eneg dan membiarkannya tenang memelototin saya.
beberapa waktu yang lalu, saya memutuskan dan saya pikir itu salah satu keputusan bodoh yang saya ambil. ketika pikiran, hati dan parahnya jiwa sedang tidak dalam kondisi baik. keputusan bodoh untuk tidak melanjutkan menulis di blog ini.
beberapa hari saya jalani tanpa suara suara rayuan yang lahir setiap malam "menulislah..."
pada saat itu, telinga tak dapat mendengar dengan jelas desahan malam yang meminta dibuatkan puisi.
atau rintihan tangis hujan yang berharap aku kembali memeluknya kala itu.
mata yang pada saat itu dibutakan, tidak bisa melihat segala bentuk keindahan, tawa dan tangis dari mereka yang rindu kepada makhluk gaib bernama cinta. mata yang berusaha melirik kesana kemari mencari celah dimana cintaku bersemayam. dan tidak kutemukan.
hati yang kata orang adalah organ tubuh paling lemah namun bisa menjadi yang paling kuat mempengaruhi jiwa seseorang, yang kala itu saya sangat merasakan benar benar lemah. sampai tidak tahu sebenarnya apa yang membuat saya berlama lama meringkuk dalam sebuah keputusasaan.
semua yang saya butuhkan pada saat itu sedang tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan memaksa saya beristirahat dalam diam tanpa menulis.

kini, saya merindukan kembali saat dimana saya bangun, dan yang kutemukan adalah nafas untuk menulis lagi.
selamat datang kembali semangat. secangkir rindu yang sudah saya persiapkan untukmu. kita minum kembali bersama sama di pagi yang semu ini. dan saya sudah siap untuk jatuh cinta lagi :)