Rabu, 19 Desember 2012

disitulah bahagia itu berbicara

aku mulai bosan membicarakan perasaanku kepada dinding dinding kelabu yang dianggapnya tabu.

kakiku mulai kering menapaki parahnya prasangka bumi kepada hujan

lelah tersisa ketika kucoba berlari merintis sedih. berharap ada bahagia yang sedang meringkuk malu di ujung tangis.

sayup tanganku tak mampu lagi menengadah, menampung mimpi mimpi yang terucap dari sebait doa.

telinga yang mulai penuh, tertutup kebencian dan kegelisahanku sendiri.

cukup, mereka semua tak bisa bicara, sekalipun hanya untuk mengais perhatian kepada sang hujan.

apalagi berteriak di tanah lapang yang tiada satupun orang mendengar.

ucapnya , kebahagiaan itu bukan disana tempatnya. 

tapi disini. di tempat yang tak pernah kutengok.

dekat sekali, teramat dekat dengan nafasku yang kadang tersengal.

disitulah kebahagiaanku berbicara. berbicara tentang dunia yang begitu lembut. 

mungkin karena tak ada seorangpun yang bisa menjamahnya.

Tuhan menyebutnya hati nurani. 

dan, kini aku sadar . aku tak perlu berlari mengais bahagia yang tak kuketahui jalannya.

karena aku takut tersesat dalam nurani yang celaka.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar