Senin, 30 Juli 2012

bersahabat dengan ikan


Waktu berjalan bagaikan bola yang menggelinding dari dataran tinggi ke yang lebih rendah. Tak ada satupun yang bisa menghentikan laju bola itu. Seperti waktu yang tak bisa dihentikan oleh manusia dan diputar kembali layaknya film Titanic yang diputar berulang-ulang di stasiun televisi. Sudah dua tahun, aku mengenal pahit manisnya berteman dengan dia. Dia begitu tampak menyebalkan bahkan sampai sekarang sifat itu terus saja melekat pada dirinya . Dulu, dia murid baru di tempat kami menimba ilmu . Dia masuk sebagai siswa baru di sekolah ini sejak kelas 2 SMA. Aku masih ingat saat itu, dari sudut kejauhan kulihat lelaki itu tampak berjalan ke arah kelas kami dengan sangat tertatih. Gontai langkahnya menggambarkan dia sangat tidak ikhlas pindah ke sekolah ini. Dia pemuda tampan . Banyak gadis-gadis tergila-gila akan ketampanan dan kemisteriusannya. Namun tak sedikit teman yang benci terhadapnya karena sikapnya yang terlalu dingin dan bahkan sulit untuk tersenyum. Hari-hari yang menyita sebagian waktuku hanya di sekolah membuatku semakin dekat dengan pemuda bernama lengkap Rahardian Andre itu. Dia orang yang sulit bergaul karena sikapnya yang dingin, tapi rasa penasaranku mengalahkan keangkuhannya sehingga dia bersedia menjadi temanku. Aku bilang usia pertemananku dan dia masih sangat muda sehingga membuat kami hampir bertengkar setiap hari. Dia cukup mengajarkan banyak hal padaku. Dia orang yang baik dan aku menyayanginya sebagai sahabat terbaikku selama di sekolah ini. Hari itu, dia mengajakku memancing. Itulah yang selalu dilakukannya untuk mengisi sebagian waktunya yang kosong. Aku turuti ajakannya. Uniknya, satu pelajaran terpenting yang aku dapat dari pemuda berkulit putih dan beralis tebal itu ketika memancing. “ satu hal yang sampai saat ini tersumbat di pikiranku, apakah begitu mengesankan kegiatan membosankan ini bagimu ? aku ingin tahu mengapa kau lebih memilih memancing ?” , tanyaku selalu ingin tahu. Kemudia dia tersenyum simpul padaku, lalu berkata, “ maaf telah membuatmu merasa bosan dengan kegiatanku ini, tapi ada hal yang perlu kukatakan padamu bahwa memancing bukanlah untuk bersenang –senang, hobi, atau yang sering dikatakan orang bahwa memancing itu belajar melatih kesabaran. Namun ada hal lain yang perlu kau ambil hikmah dari memancing.” “apa itu?”,tanyaku penasaran. “bersahabatlah dengan ikan”, jawabnya singkat semakin menebalkan rasa ingin tahuku. Sejenak aku terdiam, perlahan mencerna setiap perkataannya yang selalu menimbulkan teka-teki bagiku. Kuperas otakku untuk bekerja lebih keras memikirkan maksud perkataannya. Dan akhirnya aku menyerah karena kepolosanku yang tak tergoyahkan . “bisakah kau tidak selalu membuatku harus mempekerjakan otakku 2 kali lebih keras ?” , gertakku. Beberapa detik dia membisu merangkai kata untuk meluapkan apa yang ingin dikatakannya padaku. Dan terlontar pesan indah dari mulutnya . “ketika kau memancing, anggaplah bahwa ikan itu sahabatmu. Carilah umpan cacing dengan sepenuh hati untuk nantinya akan kau berikan ikhlas pada ikan untuk bertahan hidup. Ketika ikan tersebut mampu merasakan keikhlasanmu, maka dengan kerelaan ikan itu akan menyerahkan hidupnya padamu. Orang yang telah membuatnya tetap hidup karena umpan yang berupa cacing itu. Kau paham maksudku?”, jawabnya cukup membingungkanku. Raut wajahku menciut, dahiku mengkerut. Tanda kepolosan bahwa aku cukup bingung dengan tuturnya . Mungkin dia menyadarinya, sehingga dia langsung melanjutkan ucapannya tanpa aku bertanya lagi. “hiduplah seperti ikan itu. Carilah sahabat seperti cara yang dilakukan ikan itu. Sebagai wujud terima kasih ikan kepada si pemancing karena telah memberinya makan untuk bisa bertahan hidup, maka ikan bersedia menyerahkan hidupnya untuk kau pancing lalu kau makan. Dia bersedia mati untuk sahabatnya, si pemancing.Demikian yang aku sebut bersahabat bersama ikan”. Reaksiku seketika tampak bahwa aku sangat kagum pada ucapannya. Kutelan berulang-ulang kata-katanya kemudian aku serap maknanya. Benar yang dikatakannya. Cara bersahabat yang baik adalah ketika kita rela berkorban untuk sahabat kita seperti yang dilakukan ikan pada si pemancing. Sungguh ucapannya kusimpan dan kugenggam erat-erat di hatiku agar aku tidak salah dalam memaknai persahabatan . Sepulangnya dari memancing, aku berjalan berdampingan bersamanya menuju rumahku untuk memasak ikan yang telah kami tangkap. Sepanjang jalan selalu saja gurauan tak henti terlontar dari mulutku. Meski dia hanya menanggapi dengan senyum-senyum simpul tak menggairahkan. Namun begitu, lama-kelamaan dia larut dalam gurauanku . Ketika kami sedang asyik bercanda dan berkejaran, datanglah mobil dari arah yang berlawanan melaju dengan kecepatan melebihi seribu pasukan berkuda menghampiriku. Aku tidak menyadarinya karena keasyikanku bergurau, namun dia kemudian berlari menyelamatkanku dari tikaman mobil itu. Parahnya, bukan aku tapi justru dia yang tertabrak mobil. Dia terpental 5 meter dari titik kejadian. Aku berteriak , hingga suaraku hampir tak terdengar. Dia sudah tergeletak tak berdaya. Darah bercucuran di seluruh bagian tubuhnya . Aku tak bisa membendung luapan air mata yang keluar saat aku melihat tubuh malangnya menyentuh jalan yang kasar. Aku menghampirinya dan menggenggam tanganya, mulutku tak pernah berhenti untuk selalu memanggil namanya.Tangannya bergetar menampakkan kesakitan atas luka tabrakan itu. Dia hampir tidak bisa menggerakkan seluruh badannya. Aku takut, khawatir dan jelas perasaan bersalah terus saja terlintas di otakku . Dengan singkat dia berkata,” Aku berhasil menjadi sahabat seperti yang telah dilakukan ikan . Dulu kau membuat duniaku yang kelam hidup kembali. Berkat kau aku bisa hidup lebih lama. Sekarang sebagai balasan atas kebaikanmu, aku rela menyerahkan hidupku untuk membuatmu tetap hidup. Lanjutkan hidupmu dan carilah sahabat yang baik.Aku menyayangimu”. Kemudian bibirnya mulai membisu,dia menutup matanya untuk selamanya. Tubuhnya kaku dan membiru. Dia tampak sangat menyedihkan. Sempat kulihat air matanya keluar dan akhirnya mengering di pipinya. Dia meninggal dengan segudang kenangan dan pelajaran berharga yang selalu dia utarakan padaku. Tak henti-hentinya aku menangisi kepergiannya. Dia memang sahabatku bahkan sampai sisa hidupnya . Setidaknya, dengan kematiannya sudah cukup membuktikan pengorbanan dia terhadapku. Aku bersyukur bisa mengenal manusia sebaik dan setulus dia. Doaku mengiringi kepergiannya. Kasih dan sayangku membalut semua kenangan bersama bayang-bayang dirinya. Akan kukenang meski kau tak lagi hadir dalam setiap nafasku. Selamat jalan kawan.

Minggu, 08 Juli 2012

Tepat Tengah Malam



Kudapati diriku terbangun dari sebuah mimpi
 
Terperangah dalam sudut-sudut ruang yang gelap

Kuperhatikan jam dinding berdentang 

Tepat tengah malam aku tersadar

Dari bayang-bayang kelam masa lalu

 Yang dikemas secara runtut di dalam mimpi

Membuatku segera ingin kembali ke kehidupan nyata

Tidak lagi kembali dalam mimpi yang buruk

Aku bersyukur disambut udara tengah malam

Yang meniupkan kesejukkan malam itu
 
Tepat tengah malam

Bukan saat yang mencekam bagi penelusur jalanan

Ini hanya waktu dengan keheningan yang tersimpan

Agar aku bisa memaknai betapa sucinya waktu

Yang tergambar jelas di tengah malam

Perpisahan Kala Senja



 Ku kayuh sepeda setengah tua

 Dimana tidak hanya ada bayangmu

Suaramu telah mengisyaratkan perpisahan
 
Senyummu pertanda inilah akhir pertemuan kita

Belum lama aku mengenal bahasa tubuhmu

Namun senja itu memberiku jawaban terhadap teka-tekimu

Kau janji kau akan kembali

Membawa mawar yang kau tancapkan di saku kemejamu

Lagi-lagi senja itu berkata inilah pertemuan terakhir

Namun kau kembali meyakinkan keraguanku

Lewat sebait puisi yang selalu kau ciptakan

Sebelum aku menepuk pundakmu di setiap awal perjumpaan

Kali ini kau sisipkan kata senja di judul puisimu
 
Di dalamnya kau berkata

Perpisahan paling indah adalah saat senja

Karena ketika kau berjalan menjauh dariku, bayangmu masih saja terlihat 

Kau tempatkan dirimu sebagai lakon utama puisimu

Kini kau menghilang bersama senja yang perlahan sirna berganti malam

Lalu aku merasa telah berpisah denganmu

Namun untungnya ini perpisahan yang indah.

Api Kerinduan



Dalam hujan aku termenung

Dingin yang bergulat menyelimuti tubuhku

Kucuran air hujan yang mengalir di depan mata

Cipratan air yang menusuk dinding kalbu

Aku butuh setitik api yang menyala

 Untuk sekedar menetralkan suhu tubuhku

Hujan telah membuatku tersadar

Akan kerinduanku pada seseoramg

Senyum hangatnya telah membakar hujan

Dia seperti nyala api yang kecil

Goyah bila tertiup angin

Namun terus mencoba membakar mata hatiku

Api itu akan terus berkobar

Beriringan dengan deras hujan dan desir angin

Ketika api mulai padam

Maka rinduku perlahan sirna tertelan hujan

Tapi aku akan selalu menyalakan api kerinduan

Di tengah hujan yang mengingatkanku padamu sang terkasih


Sabtu, 07 Juli 2012

biarkan hati itu membatu

kau mungkin tidak lagi bisa merobohkan hatiku hanya dengan sebuah genggaman semata,

kini hatiku telah membatu, menjadi kokoh tanpa ada isi di dalamnya.

bahkan ketika kau tampar hatiku dengan telapak kirimu, hati itu masih saja diam .

tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

mungkin aku terlalu menyayangimu, hingga hantaman sekeras apapun tak kan mampu mencuil sedikit pun
kulit hatiku.

apalagi menjadikanku remuk berkeping-keping

aku adalah bagian dari batu itu, kecil, keras dan tak berarti bagi siapapun.

orang-orang selalu menendangku ketika mereka merasa putus asa.

melempar sejauh-jauhnya ke tengah laut, sambil mengucapkan *berengsek !

hingga aku tenggelam bersama masalah mereka 

itu lah aku, sebuah batu yang tidak diterima kehadirannya.

dijadikan korban pelampiasan orang-orang tak bernaluri.

batu yang selalu menjadi sandungan bagi mereka yang berjalan tanpa menggunakan alas kaki.