Rabu, 15 Februari 2012

aku baik-baik saja

malam bungkam, sunyi dan tak ada gemercik air hujan saat itu
denting jam seakan menerka apa yang sedang berputar di fikiranku
kupandangi foto kusam seorang lelaki tua yang kucintai
dia ayahku, namun waktu memakan segala kerinduanku padanya
terucap nada kasih dan doa indah dari mulut anakmu
yang sedang berharap hadirnya bayangmu memelukku
tetesan air mata mengalir dan mengering di pipi
inginku kau bisa mengerti , disini aku baik-baik saja
hanya terkadang memori tentang dirimu terekam jelas
yang selalu membuatku merasa sakit
dada ini sesak, karena terlalu banyak menyimpan rasa
rasa rindu yang kini bergejolak
menahan setiap hembusan nafasku yang tersengal
aku rindu padamu ayah walau dunia kejam memisahkan kita
semoga Tuhan menjagamu karena doaku menyertaimu
rinduku tak kan terapus oleh garis-garis zaman yang melukiskan hidupku
aku akan tetap hidup dan mendoakanmu selama Tuhan masih mengijinkanku
merindukanmu dalam doa dan tangisku.
sekali lagi aku baik-baik saja Ayah
dari seorang anak dengan penuh cinta berbicara pada Tuhan
untuk menjagamu selama perpisahan kita.

Rabu, 08 Februari 2012

malam di Semarang

 ( bersama dwi cipta )


kita tersesat di kota tua
dengan angin yang selalu muda
daun pintu, kita dikepung banyak perangkap
masa lalu adalah hari ini katamu.
bagaimana aku harus
mempercayainya dan menerima
sebagai kebenaran jika dulu, di sini,
di tempat tujuan kita, semata laut.
dan sungai yang pernah dilewati kapal
tak bisa dicium bekasnya lagi
yang mungkin sebagian jadi jalan; jadi hotel; jadi terminal.
tubuhmu yang diserang demam,
hantu masa lalu yang memerangkap
lewat atap bis ekonomi
di sini, kini, kuterima
igauanmu serupa bisikan.
kurasa segalanya berpulun.
tak ada yang sungguh usai.
kita mengenang sejarah sebagai catatan hari ini.
kota lama, agustus yang kemarau, lewat dengan biasa-biasa saja bahkan terlampau sederhana
orang-orang menggumamkan sumpah lama yang terus dilafazkan
di antara bendera warna -warna aku melihat masa depan yang rumit.
apa yang seharusnya kita sebut sebagai kenangan ?
jika peristiwa melulu sama. sakit dan rasa dendam.
ada yang menjaganya, katamu-kubayangkan kau menunjuk parade lambang dan warna-warna berjuntaian dari kampung sebelah.
dan kau masih bertempur dengan hantu masa lalu
dan nyaris bisa membunuh ddemam di tubuhmu
kesakitan yang ditorehkan sejak manusia pertama ada.